Senin, 30 Juni 2014

Rencanakan Sukses Anda


PENTINGNYA RENCANA USAHA

Memiliki dan mengembangkan usaha sendiri atau kelompok, merupakan impian dan idaman setiap orang, terutama bagi yang berniat menjadi wirausahawan, namun memang tidak setiap orang dapat mewujudkan hal itu. Perbedaan, sikap dan kemampuan seseorang juga turut menentukan kesuksesan atau kegagalan dalam membangun usaha. Sikap ulet, tangguh, baik tenaga maupun emosi yang dimiliki, keberanian dan ketabahan terutama dalam menghadapi masa-masa sulit, berkomunikasi dan kesediaan dalam mengambil resiko tertentu.
Namun demikian, tidak mesti harus menjadi orang serba hebat untuk memulai usaha. Yang dibutuhkan hanya perencanaan usaha yang matang dan pikiran yang wajar disertai sikap yang siap dalam menghadapi tantangan, karena sikap inilah banyak wirausahawan yang berhasil dalam melakukan usahanya. Selain berbagai sikap positif yang telah disebutkan, ada baiknya jika hal tersebut dilengkapi dengan berbagai tambahan informasi dan pemahaman yang akan membimbing serta mencetuskan suatu usaha yang terbayang dalam pikiran Untuk menyusun rencana usaha, maka diperlukan penguasaan terhadap :
1). Pengertian rencana usaha.
2). Fungsi rencana usaha.
3). Manfaat rencana usaha
Hal tersebut diatas akan coba dibahas lebih mendalam  dalam upaya untuk memulai suatu usaha.


Minggu, 29 Juni 2014

Tips dan Trik Berusaha

WIRAUSAHA

Adalah seseorang yang memiliki visi, semangat, dan gairah untuk melakukan tindakan-tindakan nyata dalam menciptakan dan mengembangkan sendiri sumber-sumber incomenya tanpa tergantung semata-mata pada orang lain.
Hal-hal yang dibutuhkan oleh seorang wirausaha adalah:

*      Dream Big, Memiliki impian, visi yang besar dan jelas.
*      Start Small, Memulai dari yang kecil, berani ambil resiko atau gagal dan mau bangkit lagi.
*      Act Now, mengambil keputusan segera.


Beberapa alasan mendasar mengapa seseorang harus menjadi wirausaha, tentunya kondisi sekarang dimana jumlah pencari kerja sangat banyak maka persaingan semakin ketat. Bagi beberapa orang tidak suka diatur-atur  atau terikat baik waktu atau managment sehingga bisa bersikap lebih dewasa, alasan lain mungkin potensi sumber pendapatan yang tidak terbatas, mengatur jam kerja sendiri, dan lain-lain.
Langkah berwirausaha


ExactSeek: Web Search Relevan </ A> </ td> </ tr> </ table> </ form>

Jumat, 27 Juni 2014

CARA MENJEBOL ATM ANDA

ATM ANDA

Dalam mengupayakan datangnya uang harus dilakukan beberapa hal yang mudah tapi harus di kerjakan dengan konsisten dan berkualitas

1.Amati
Lakukanlah pengamatan, lihatlah peluang atau usaha disekitar kita dan coba analisa bisnis apa apakah yang paling mungkin dan menghasilkan uang. dengan memperhatikan kebutuhan yang dominan di sekeliling kita, contoh didekat rumah kita ada Sekolah Dasar maka segmen  pasarnya adalah anak2 maka bisnis yang muncul adalah layanan foto copy serta kebutuhan kegiatan belajar mengajar sekolah. Kantin Jajanan sekolah kisaran harga 2rb sampai 10 rb, jangan lupa bahwa setiap anak pada umumnya selalu dibekali uang jajan tiap harinya dan ini pasar yang  potensial. Bayangkan dalam satu sekolah dengan peserta didik asumsi 500 siswa katanlah per siswa   membelanjakan minimal 2 rb-5rb maka uang yang berputar adalah kiaaran satu juta, Jika peluang pasar yang terjadi minimal 25% bisa diambil maka keuntungan diraih dari omset katakanlah 30% maka perhari bisa didapat rupiah antara 75rb-100rb .dikali jumlah hari sekolah.

2. Tiru
Menjiplak ga ada salahnya, Kita bisa melakukannya di banyak lokasi, tempat2 ramai dengan kegiatan pusat bisnis yang lain. Kita bisa meniru cara bisnisnya, jenis usahanya, Mulailah mencari informasi, banyak belajar bisnis yang ingin digeluti dan sesuaikan dengan minat dan passion anda melalui media internet misalnya.

3.Modifikasi
Artinya menambahkan "sesuatu' apa yang akan menambahi nilai jual dan membentuk karakter dari produk yang bakal beredar di pasar sehingga produk anda lebih memikat pangsa pasar dan bisa meraih omset besar. Lakukanlah layanan prima setiap pelanggan, lebih cepat, lebih bersih, lebih ramah dan memuaskan.sehingga selain akan kembali datang jugaakan  mendatangkan, menggaet pelanggan baru

Jadi ATM anda selalu melekat di dalam diri anda bagaimana cara menghasilkannya, tergantung seberapa besar  anda mengupyakannya dengan sungguh. Lakukanlah sesegera mungkin maka semakin dekat dengan tujuan anda dengan ATM anda
ATM ANDA     ACT NOW


Critic.net/world-cup-2014 /

Kamis, 26 Juni 2014

Kelayakan Proposal Bisnis Anda

Penilaian Proposal Bisnis Anda
Setelah  proposal kita diterima maka selanjutnya pihak Pendonor/Bank/BUMN akan  melakukan penilaian dan survei kelayakan pada kegiatan bisnis kita. Berikut 5 hal ini yang menjadi bahan pertimbangan kelayakan sebuah bisnis/perniagaan.

5 FAKTOR PENILAIAN USULAN PINJAMAN

KARAKTER
 Menunjukan Kemungkinan Mitra Binaan (MB) Untuk Secara Jujur Memenuhi Kewajibannya,
 Faktor Ini Menunjukkan Kesanggupan MB atas Tiap Transaksi Kredit Yang
 Dilakukannya
KAPASITAS
 Kemampuan MB yang ditunjukan Dengan Kinerja Usahanya Pada Waktu Yang Lama
MODAL
Mengukur Posisi Keuangan Perusahaan Nasabah Yang Ditunjukan Oleh Rasio
Keuangan
KONDISI EKONOMI
 Melihat Pengaruh Langsung dari Perubahan Ekonomi Secara Umum Terhadap
 Perkembangan Perusahaan MB
AGUNAN
Mencerminkan Aktiva Perusahaan MB Yang Dijadikan Jaminan Atas Usulan
Pinjamannya.

Masing-masing2 item diatas menjadi landasan yang kuat dan menjadi refleksi dari keberhasilan dan keberlangsungan bisnis kita, Kita harus mengupayakan itu semua menjadi sebuah standar yang berkualitas

Kelyakan Bisnis

Critic.net/world-cup-2014 /

Akses Dana Anda

Akses Dana

Berikut saya Berikan informasi yang berkaitan dengan persyaratan untuk menjadi mitra binaan BUMN


PERSYARATAN USAHA KECIL

MENJADI MITRA BINAAN

Memiliki Kekayaan Bersih Paling Banyak Rp. 200 juta, Tidak Termasuk Tanah Dan Bangunan Tempat Usaha; atau Memiliki Hasil Penjualan Tahunan Paling Banyak Rp. 1 Milyar
Milik Warga Negara Indonesia
Berdiri Sendiri, Bukan Merupakan Anak Perusahaan atau Cabang Perusahaan Yang Dimiliki, Dikuasai, atau Berafiliasi Baik Langsung Maupun Tidak Langsung Dengan Usaha Menengah dan Besar.
Berbentuk Usaha Orang Perseorangan, Badan Usaha Yang Tidak berbadan Hukum atau Badan Usaha Yang Berbadan Hukum, Termasuk Koperasi.
Telah Melaksanakan Kegiatan Usaha Minimal 1 (satu) Tahun Serta Memiliki Potensi dan Prospek Usaha Untuk Dikembangkan
Melaksanakan Kegiatan Usaha Sesuai dengan Rencana Yang Telah Disetujui BUMN Pembina
Menyelenggarakan Pencatatan/Pembukuan Dengan Tertib
Membayar Kembali Pinjaman Secara Tepat Waktu Sesuai Dengan Perjanjian Yang Telah Disepakati
Menyampaikan Laporan Perkembangan Usaha Kepada BUMN Pembina

Akses Dana CSRSemoga persyaratan semua diatas kita masuk didalamnya


Critic.net/world-cup-2014 /

Rabu, 25 Juni 2014

Akses Dana Melalui CSR

Berikut saya ikut share tentang CSR (Corporate Sosial Responsibility) barangkali rekan berminat untuk mengajukan proposal kepada pendonor/BUMN untuk menjadi Mitra Binaan nya dimana pendonor memiliki keharusan untuk bisa melaksanakan ini berdasarkan peraturan yang ada.

Kewajiban BUMN Pembina 
a. Membentuk unit PKBL (Program Kemitraan Bina Lingkungan)
b. Menyusun (SOP) untuk pelaksanaan PKBL yang dituangkan dalam SKD (Surat Keputusan Direksi)
c.Menyusun Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) PKBL
d.Melakukan evaluasi dan koreksi atas kelayakan usaha dan menetapkan calon Mitra Binaan
e. Menyiapkan dan menyalurkan dana PK (Program Kemitraan) Kepada MB (mitra Binaan) dan dana BL (Bantuan Langsung) kepada Masyarakat
f. Melakukan pemantauan dan pembinaan terhadap Mitra Binaan
g.Mengadministrasikan kegiatan pembinaan
h.Melakukan pembukuan atas Program Kemitraan dan Program BL
i. Menyampaikan laporan pelaksanaan PKBL yang meliputi laporan berkala baik triwulanan maupun tahunan kepada Menteri dengan tembusan kepada Koordinator BUMN Pembina di wilayah masing-masing
CSR Sebagai Kewajiban
Demikian semoga bermamfaat



Critic.net/world-cup-2014 /

Selasa, 24 Juni 2014

Konten Proposal Untuk Donor


Format Proposal:

Bagi rekan-rekan yang ingin membuat poposal untuk pengajuan dana kepada pendonor sedikit saya sampaikan 
hal-hal yang berkaitan dengan dokumen dan konten proposal.

Format proposal atau permohonan kemitraan diusahakan sesederhana dan sejelas mungkin dengan panduan pokok berikut ini.
Silahkan memberikan rincian tambahan informasi yang relevan dengan kegiatan yang diusulkan. Jika kelompok yang memerlukan bantuan tidak dapat membaca dan menulis, bisa meminta bantuan dengan bentuk power point bersuara atau film pendek dengan alur yang sama dengan proposal dilampiri budget. Prinsip utama yang diusulkan oleh program ini dalam menyusun kegiatan adalah partisipatif, bertanggung gugat, transparan, dan memiliki cara pelaporan horizontal antar anggota komunitas secara rutin. Usahakan untuk menyertakan tanda persetujuan dari masyarakat yang didampingi bagi LSM yang mengambil peran sebagai perantara kegiatan.

A.Keterangan Administrasi dan Komunitas/Lembaga:
1.     Judul Proyek/Kegiatan
2.  Nama Komunitas/LSM/Kelompok Usaha Bersama (Sertakan akte pendirian jika terdaftar dan atau kesepakatan pendirian kelompok beserta susunan pembina dan pengurus)
3.    Kontak Utama Kegiatan dan Penanggung Jawab Kegiatan: (biasanya dua atau orang berbeda. Pada kelompok usaha bersama dapat diisi ketua yang dipilih secara demokratis atau pejabat desa setempat dengan ketua pelaksana kegiatan yang ditentukan kelompok).
4.     Alamat Kontak (bukan Kode Pos, Telpon, Fax, dan email)
5.      Nomor Rekening Bank (Tidak wajib isi. Ketika sudah dinyatakan disetujui proposalnya oleh Panitia Pengarah dan menerima surat perny at aan persetujuan, komunitas atau lembaga pemohon diharuskan atas nama Dewan atau rekening gabungan / joint account dengan penandatangan 2 atau 3 orang yang tidak memiliki hubungan keluarga atau hubungan yang tidak setara antara pihak yang menandatangani rekening / account.)

B. Keterangan Proyek/Kegiatan;
1.     Penjelasan letak geografis daerah kerja proyek: peta lokasi (jika ada); penjelasan singkat ekosistem daerah kerja; satwa dan tanaman endemic serta species migrasi jika ada dan bagaimana statusnya; luasan daerah kerja yang berpotensi menerima dampak; status hak pemanfaatan wilayah dan hak pengelolaan wilayah; status perlindungan dan konservasi jika ada).
2.     Sebutkan keadaan umum lokasi yang diusulkan dan makna tempat ini secara sosial dan ekonomi dengan masyarakatnya. (Berapa anggota masyarakat yang secara aktif menjadi penggerak proyek; berapa jumlah populasi laki-laki, perempuan dan anak-anak pada kampung atau kelompok masyarakat yang akan bermitra; bagaiamana kekuatan atau kelamahan pengorganisasian masyarakatnya; pola kepemimpinan dan pembagian tugas; apa sumber mata pencaharian utama mereka; hubungan antara manusia dengan sumberdaya atau lingkungannya; jika ada sebutkan praktek-praktek kearifan tradisional yang masih dilakukan yang menghambat atau mendukung upaya pelestarian sumberdaya keaneragaman hayati.)
3.     Sertakan analisa dari diskusi bersama masyarakat tentang ancaman ekologis yang dihadapi masyarakat; upaya apa saja yang sudah dilakukan secara kolektif bersama-sama; upaya mana yang berhasil dan upaya mana yang tidak berhasil; upaya-upaya mana yang akan diperkuat bersama-sama dan memerlukan bantuan dari pendonor atau sumber dana lain.
4.      Kemampuan dan kelemahan kolektif yang dapat menjadi peluang dan tantangan untuk merubah perilaku dan kebijakan sehingga lebih ramah lingkungan.
5.      Analisa masalah dan usulan pemecahan masalah.
6.     Tujuan Jangka Panjang Kegiatan yang dimintakan bantuan; Sasaran atau Tujuan Jangka Pendek; Hasil-hasil yang diharapkan dan kegiatan apa yang diusulkan (sertakan pula bagaiamana masyarakat akan mengukur sendiri arah dari tindakan bersama; apakah tepat arah mencapai tujuan atau tidak.).
7.      Rencana keberlanjutan kegiatan sesudah selesai pendanaan. (Kegiatan dan perkiraan keberlanjutan kegiatan sesudah masa proyek selesai (jika revolving fund atau micro financing, maka siapa yang akan bertanggung jawab terhadap pengelolaannya. Jika yang diusulkan adalah kegiatan produksi, sertakan rencana usaha secara sederhana meliputi keterangan produksi, pengadaan bahan baku, asal dari bahanbaku dan bagaimana mendapatkannya, bagaimana mutu produksi dijaga dan bagaimana pemasarannya. Siapa yang bertanggung jawab dalam kelompok mengenail pembukuan, pemasaran, penjualan, pengepakan, transportasi dan kontrol mutu.)
8.     Monitoring dan Evaluasi Kelompok (tentukan indikator pencapaian dan cara-cara mengukurnya yang sederhana dan dapat dilakukan bersama-sama oleh dan dengan masyarakat, meliputi indikator biologi dan index sustainabilitas sumberdaya; indikator sosial dan ekonomi; indikasi dampak ekologis, sosial dan ekonomi; petunjuk kecenderungan atau perkembangan kewiraushaan masyarakat jika kegiatan yang diusulkan menyangkut kegiatan produksi dari sumberdaya keanekaragaman hayati. Jika terdapa kegiatan untuk dialog kebijakan dengan pihak-pihak yang berwenang, maka sertakan indikasi keberhasilan negosiasi posisi masyrakat dalam mengamankan hak pemanfaatan, pengelolaan dan perlindungan sumberdaya alamnya.)
9.     Perkiraan Resiko dan Tindakan yang diusulkan untuk mengurangi resiko yang dihadapi dalam mencapai tujuan atau selama pelaksanaan kegiatan.
10.   Perkiraan Anggaran 
Critic.net/world-cup-2014 /

Senin, 23 Juni 2014

STRATEGI BERNEGOSIASI


Tahapan dan Teknik Negosiasi

Pada dasarnya negosiasi adalah cara bagaimana kita mengenali, mengelola dan mengendalikan emosi kita dan emosi pihak lain. Di sinilah seringkali banyak di antara kita tidak menyadari bahwa negosiasi sebenarnya lebih banyak melibatkan apa yang ada di dalam hati atau jiwa seseorang. Ini seperti gambaran sebuah gunung es, di mana puncak yang kelihatan merupakan hal-hal yang formal, tuntutan yang dinyatakan dengan jelas, kebijakan atau prosedur perusahaan, maupun hubungan atau relasi bisnis yang didasarkan pada hitungan untung rugi.

Sedangkan yang sering dilupakan dalam proses negosiasi adalah hal-hal yang tidak kelihatan, seperti misalnya hasrat, keinginan, perasaan, nilai-nilai maupun keyakinan yang dianut oleh individual yang terlibat dalam konflik atau yang terlibat dalam proses negosiasi. Hal-hal yang di dalam inilah justru seringkali menjadi kunci terciptanya negosiasi yang sukses dan efektif.

Negosiasi sebenarnya melibatkan tiga hal pokok yang kami sebut sebagai Negotiation Triangle, yaitu terdiri dari HEART (yaitu karakter atau apa yang ada di dalam kita yang menjadi dasar dalam kita melakukan negosiasi), HEAD (yaitu metoda atau teknik-teknik yang kita gunakan dalam melakukan negosiasi), HANDS (yaitu kebiasaan-kebiasaan dan perilaku kita dalam melakukan negosiasi yang semakin menunjukkan jam terbang kita menuju keunggulan atau keahlian dalam bernegosiasi).

Jadi sebenarnya tidaklah cukup melakukan negosiasi hanya berdasarkan hal-hal formal, kebijakan dan prosedur, atau teknik-teknik dalam negosiasi. Justru kita perlu menggunakan ketiga komponen tersebut yaitu: karakter, metoda dan perilaku.

Dalam banyak hal, negosiasi justru tidak terselesaikan di meja perundingan atau meja rapat formal, tetapi justru dalam suasana yang lebih informal dan relaks, di mana kedua pihak berbicara dengan hati dan memanfaatkan sisi kemanusiaan pihak lainnya. Karena pada dasarnya selain hal-hal formal yang ada dalam proses negosiasi, setiap manusia memiliki keinginan, hasrat, perasaan, nilai-nilai dan keyakinan yang menjadi dasar bagi setiap langkah pengambilan keputusan yang dilakukannya.


Langkah-langkah bernegosiasi

Persiapan. Langkah pertama dalam melakukan negosiasi adalah langkah persiapan. Tahap ini sangat penting karena persiapan yang baik merupakan fondasi yang kokoh bagi negosiasi yang akan kita lakukan. Hal tersebut akan memberikan rasa percaya diri yang kita butuhkan dalam melakukan negosiasi. Yang pertama harus kita lakukan dalam langkah persiapan adalah menentukan secara jelas apa yang ingin kita capai dalam negosiasi. Tujuan ini harus jelas dan terukur, sehingga kita bisa membangun ruang untuk bernegosiasi. Tanpa tujuan yang terukur, kita tidak memiliki pegangan untuk melakukan tawar-menawar atau berkompromi dengan pihak lainnya.

Kedua, kenali karakter dan latar belakang lawan negosiasi kita. Gali informasi sebanyak mungkin mengenai siapa dia/mereka, kekuatan dan kelemahannya, apa tujuan atau kepentingannya. Tujuan yang jelas dan terukur disertai pengetahuan atas lawan negosiasi akan memudahkan kita menyusun elemen ketiga, yaitu beberapa alternatif skenario. Menyusun alternatif ini penting dilakukan agar kita selalu tanggap menghadapi berbagai kemungkinan situasi. Dalam hal ini, menyangkut juga apa tawaran maksimum dan minimum yang bisa kita berikan sesuai tujuan kita.

Hal terakhir yang tak kalah pentingnya adalah kesiapan mental kita. Usahakan kita dalam kondisi relaks dan tidak tegang. Cara yang paling mudah adalah dengan melakukan relaksasi. Bagi kita yang menguasai teknik pemrograman kembali bawah sadar (subconscious reprogramming) kita dapat melakukan latihan negosiasi dalam pikiran bawah sadar kita, sehingga setelah melakukannya berkali-kali secara mental, kita menjadi lebih siap dan percaya diri.

Pembukaan. Mengawali sebuah negosiasi tidaklah semudah yang kita bayangkan. Kita harus mampu menciptakan atmosfir atau suasana yang tepat sebelum proses negosiasi dimulai. Untuk mengawali sebuah negosiasi dengan baik dan benar, kita perlu memiliki rasa percaya diri, ketenangan, dan kejelasan dari tujuan kita melakukan negosiasi. Ada tiga sikap yang perlu kita kembangkan dalam mengawali negosiasi yaitu: pleasant (menyenangkan), assertive (tegas, tidak plin-plan), dan firm (teguh dalam pendirian). Senyum juga salah satu hal yang kita perlukan dalam mengawali sebuah negosiasi, sehingga hal tersebut akan memberikan perasaan nyaman dan terbuka bagi kedua pihak. Berikut ada beberapa tips dalam mengawali sebuah negosiasi:
  1. Jangan memegang apa pun di tangan kanan Anda ketika memasuki ruang negosiasi;
  2. Ulurkan tangan untuk berjabat tangan terlebih dulu;
  3. Jabat tangan dengan tegas dan singkat;
  4. Berikan senyum dan katakan sesuatu yang pas untuk mengawali pembicaraan.

Selanjutnya dalam pembicaraan awal, mulailah dengan membangun common ground, yaitu sesuatu yang menjadi kesamaan antar kedua pihak dan dapat dijadikan landasan bahwa pada dasarnya selain memiliki perbedaan, kedua pihak memiliki beberapa kesamaan yang dapat dijadikan dasar untuk membangun rasa percaya.

Memulai proses negosiasi. Langkah pertama dalam memulai proses negosiasi adalah menyampaikan (proposing) apa yang menjadi keinginan atau tuntutan kita. Yang perlu diperhatikan dalam proses penyampaian tujuan kita tersebut adalah:
  1. Tunggu saat yang tepat bagi kedua pihak untuk memulai pembicaraan pada materi pokok negosiasi;
  2. Sampaikan pokok-pokok keinginan atau tuntutan pihak anda secara jelas, singkat dan penuh percaya diri;
  3. Tekankan bahwa anda atau organisasi anda berkeinginan untuk mencapai suatu kesepakatan dengan mereka;
  4. Sediakan ruang untuk manuver atau tawar-menawar dalam negosiasi, jangan membuat hanya dua pilihan ya atau tidak;
  5. Sampaikan bahwa ”jika anda memberi kami itu, kami akan memberi anda ini – if you’ll give us this, we’ll give you that.” Sehingga mereka mengerti dengan jelas apa yang harus mereka berikan sebagai kompensasi dari apa yang akan kita berikan.
  6. Hal kedua dalam tahap awal proses negosiasi adalah mendengarkan dengan efektif apa yang ditawarkan atau yang menjadi tuntutan pihak lain. Mendengar dengan efektif memerlukan kebiasaan dan teknik-teknik tertentu. Seperti misalnya bagaimana mengartikan gerakan tubuh dan ekspresi wajah pembicara. Usahakan selalu membangun kontak mata dengan pembicara dan kita berada dalam kondisi yang relaks namun penuh perhatian.

Zona Tawar Menawar (The Bargaining Zone). Dalam proses inti dari negosiasi, yaitu proses tawar menawar, kita perlu mengetahui apa itu The Bargaining Zone (TBZ). TBZ adalah suatu wilayah ruang yang dibatasi oleh harga penawaran pihak penjual (Seller’s Opening Price) dan Tawaran awal oleh pembeli (Buyer’s Opening Offer). Di antara kedua titik tersebut terdapat Buyer’s Ideal Offer, Buyer’s Realistic Price dan Buyer’s Highest Price pada sisi pembeli dan Seller’s Ideal Price, Seller’s Realistic Price dan Seller’s Lowest Price pada sisi pembeli. Kesepakatan kedua belah pihak yang paling baik adalah terjadi di dalam wilayah yang disebut Final Offer Zone yang dibatasi oleh Seller’s Realistic Price dan Buyer’s Realistic Price. Biasanya kesepakatan terjadi ketika terdapat suatu overlap antara pembeli dan penjual dalam wilayah Final Offer Zone.

Menurut G. Richards Shell, ada tiga macam tipe negosiator dalam etika penawaran yaitu: Poker school, Idealist School, dan Pragmatist School.

The "Ini adalah permainan" poker Sekolah
·          Orang yang memiliki pandangan poker school memandang bahwa negosiasi adalah sebuah permainan dengan aturan pasti. Bertindak sesuai aturan dianggap etis sedangkan ketika bertindak sebaliknya dianggap tidak etis
·         Orang yang berpandangan tersebut terkadang mengijinkan cara – cara curang dalam memenangkan negosiasi asal cara – cara tersebut tidak melanggar aturan yang telah ditetapkan.
·         Orang yang memiliki pandangan “poker school” memiliki tiga masalah pokok yaitu: (1) Mereka beranggapan bahwa penawaran dengan cara mengancam adalah sebuah permainan (2) Semua orang dianggap memiliki aturan yang sama (setiap orang dianggap akan melakukan hal yang sama), (3) Aturan tersebut dianggap bertentangan dengan sebuah aturan yurisdiksi tunggal yang berlaku (Aturan apapun akan diabaikan jika bertentangan dengan satu aturan pokok negosiasi: MENANG!).

The "Hal yang Tepat Bahkan Jika It Hurts" Idealist School.
·          Orang yang memiliki pandangan Idealis berpendapat bahwa proses penawaran adalah salah satu aspek kehidupan sosial bukan sebuah aktivitas spesial dengan keunikannya sendiri dalam membuat aturan.
·          Seorang idealis tidak akan mengijinkan penggunaan cara - cara curang walaupun tidak melanggar aturan dalam sebuah negosiasi.
·         Seorang idealis dalam melakukan suatu negosiasi mendasarkan pandangannya pada filosofi dan agama yang dianut.
·         Seorang idealis mengijinkan anggapan bahwa kecurangan pada negosiasi akan menurunkan moralitas dan kepercayaan dengan teman, menghilangkan rasa tanggung jawab pada orang lain, dsb.
·         Seorang idealist sangat tidak menyetujui bahwa sebuah negosiasi dianggap sebagai permainan. Negosiasi adalah sesuatu hal yang dianggap serius dan memiliki konsekuensi pada masa yang akan datang.
·         Seorang idealis juga menganggap bahwa seorang poker school dianggap predator yang akan mematikan lawannya dan egois karena lebih mementingkan dirinya sendiri.

The "What Goes Around Datang Around" pragmatis School.
·         Karakter orang seperti ini masih menyadari tentang tidak etisnya sebuah kecurangan dalam bernegosiasi tetapi pada situasi tertentu dia tetap melakukannya karena dianggap tidak melanggar aturan.
·         Mereka lebih sering melakukan dan mengijinkan kebohongan sebagai salah satu trik negosiasi dibanding seorang idealis.
·         Ada lima cara yang dilakukan seorang pragmatisme untuk memblok dan menghindari bencana untuk melindungi kepentingan mereka, yaitu: (1) Menyatakan bahwa pertanyaan itu di luar batas; (2) Menjawab dengan pertanyaan yang berbeda; (3) Menghindar dari pertanyaan tersebut; (4) Memberi pertanyaan pada diri anda sendiri; (5) Mengubah subyek dari pertanyaan tersebut.

Membangun Kesepakatan. Babak terakhir dalam proses negosiasi adalah membangun kesepakatan dan menutup negosiasi. Ketika tercapai kesepakatan biasanya kedua pihak melakukan jabat tangan sebagai tanda bahwa kesepakatan (deal or agreement) telah dicapai dan kedua pihak memiliki komitmen untuk melaksanakannya.

Yang perlu kita ketahui dalam negosiasi tidak akan pernah tercapai kesepakatan kalau sejak awal masing-masing atau salah satu pihak tidak memiliki niat untuk mencapai kesepakatan. Kesepakatan harus dibangun dari keinginan atau niat dari kedua belah pihak, sehingga kita tidak bertepuk sebelah tangan.

Karena itu, penting sekali dalam awal-awal negosiasi kita memahami dan mengetahui sikap dari pihak lain, melalui apa yang disampaikan secara lisan, bahasa gerak tubuh maupun ekspresi wajah. Karena jika sejak awal salah satu pihak ada yang tidak memiliki niat atau keinginan untuk mencapai kesepakatan, maka hal tersebut berarti membuang waktu dan energi kita. Untuk itu perlu dicari jalan lain, seperti misalnya: conciliation, mediation dan arbitration melalui pihak ketiga.

Sumber:
http://www.edo.web.id/wp/2007/08/14/negosiasi/

http://insidewinme.blogspot.com/2008/03/paham-paham-etika-negosiasi.htmltips dan trik bernegosiasi

Minggu, 22 Juni 2014

lobby dan negosiasi

follow up proposal anda

Mengapa Melakukan Lobby dan Negosiasi?*

Setiap orang sejatinya adalah seorang negosiator. Tanpa disadari, setiap orang sesungguhnya kerap melakukan lobby dan negosiasi dalam keseharian hidup sebagai upaya mewujudkan keinginannya. Bahkan selagi masih kecil, seorang anak kerap menggunakan cara tertentu untuk meminta dibelikan uang jajan atau dibelikan mainan oleh orangtuanya, entah dengan merayu, merajuk, sampai menangis.  Lobby dan negosiasi juga terjadi antara istri dan suami, pedagang dan pembeli, pejabat dan stafnya, antar politisi, antar pengusaha, dan seterusnya. Singkatnya, lobby dan negosiasi hampir selalu muncul dalam setiap aspek kehidupan manusia, baik itu individual maupun kelompok.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), negosiasi diartikan sebagai proses tawar-menawar dengan jalan berunding untuk memberi atau menerima guna mencapai kesepakatan bersama antara satu pihak (kelompok atau organisasi) dengan pihak lain. Sedangkan berdasarkan New Oxford American Dictionary (2nd Edition), lobby diartikan sebagai upaya untuk memengaruhi seseorang (pejabat politik atau publik) atas suatu isu. Dengan definisi ini, baik lobby maupun negosiasi pada prinsipnya memiliki makna yang sama, yaitu membuka ruang pertukaran sumber daya untuk memenuhi kebutuhan. Perbedaan atas keduanya lebih pada bentuknya saja. Bentuk formal biasa disebut negosiasi, sedangkan bentuk informal dinyatakan sebagai lobby. Proses lobby tidak terikat waktu dan tempat, dan bisa dilakukan terus menerus dalam waktu panjang. Namun proses lobby juga memerlukan kemampuan komunikasi interpersonal yang lebih tinggi dibandingkan dengan negosiasi. Kemampuan interpersonal ini dipakai untuk mengolah proses pertukaran kepentingan dalam situasi yang nyaman dan bersahabat.

Tuntutan untuk melakukan lobby dan negosiasi memang biasanya muncul ketika seseorang atau suatu kelompok tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan atau kepentingannya, sehingga dibutuhkan tambahan atau bantuan dari pihak lain. Implisit di dalamnya, seseorang atau kelompok itu juga harus siap memberikan atau merelakan sesuatu yang bernilai yang dapat kita tukar dengan sesuatu yang dibutuhkannya itu.

Berdasarkan uraian singkat di atas, bisa dikatakan bahwa negosiasi memiliki sejumlah karakteristik utama, yaitu:
  1. Senantiasa melibatkan orang – baik sebagai individual, perwakilan organisasi atau perusahaan, sendiri atau dalam kelompok;
  2. Menggunakan cara-cara pertukaran sesuatu –baik berupa tawar menawar (bargain) maupun tukar menukar (barter);
  3. Negosiasi biasanya menyangkut hal-hal di masa depan atau sesuatu yang belum terjadi dan kita inginkan terjadi;
  4. Ujung dari negosiasi adalah adanya kesepakatan yang diambil oleh kedua belah pihak, meskipun kesepakatan itu misalnya kedua belah pihak sepakat untuk tidak sepakat.
  5. Hampir selalu berbentuk tatap-muka –yang menggunakan bahasa lisan, gerak tubuh maupun ekspresi wajah;
  6. Memiliki ancaman terjadinya atau di dalamnya mengandung konflik yang terjadi mulai dari awal sampai terjadi kesepakatan dalam akhir negosiasi;

Walau mengandung konflik, lobby atau negosiasi sejatinya merupakan cara yang paling efektif untuk mengatasi dan menyelesaikan konflik atau perbedaan kepentingan. Dengan mengembangkan kemampuan lobby dan negosiasi, setiap pihak bisa mendapatkan apa yang dibutuhkannya tanpa harus melakukan cara-cara ekstrim, seperti perang, pemaksaan, atau perebutan. Secara umum, suatu proses lobby atau negosiasi akan menghasilkan 4 kemungkinan:
  1. Kuadran Kalah-kalah (Menghindari konflik). Kuadran keempat ini menjelaskan cara mengatasi konflik dengan menghindari konflik dan mengabaikan masalah yang timbul. Atau bisa berarti bahwa kedua belah pihak tidak sepakat untuk menyelesaikan konflik atau menemukan kesepakatan untuk mengatasi konflik tersebut. Kita tidak memaksakan keinginan kita dan sebaliknya tidak terlalu menginginkan sesuatu yang dimiliki atau dikuasai pihak lain. Cara ini sebetulnya hanya bisa kita lakukan untuk potensi konflik yang ringan dan tidak terlalu penting. Jadi agar tidak menjadi beban dalam pikiran atau kehidupan kita, sebaiknya memang setiap potensi konflik harus dapat segera diselesaikan
  2. Kuadran Menang-kalah (Persaingan). Kuadran kedua ini memastikan bahwa kita memenangkan konflik dan pihak lain kalah. Biasanya kita menggunakan kekuasaan atau pengaruh kita untuk memastikan bahwa dalam konflik tersebut kita yang keluar sebagai pemenangnya. Biasanya pihak yang kalah akan lebih mempersiapkan diri dalam pertemuan berikutnya, sehingga terjadilah suatu suasana persaingan atau kompetisi di antara kedua pihak. Gaya penyelesaian konflik seperti ini sangat tidak mengenakkan bagi pihak yang merasa terpaksa harus berada dalam posisi kalah, sehingga sebaiknya hanya digunakan dalam keadaan terpaksa yang membutuhkan penyelesaian yang cepat dan tegas.
  3. Kuadran Kalah-menang (Mengakomodasi). Agak berbeda dengan kuadran kedua, kuadran ketiga yaitu kita kalah – mereka menang ini berarti kita berada dalam posisi mengalah atau mengakomodasi kepentingan pihak lain. Gaya ini kita gunakan untuk menghindari kesulitan atau masalah yang lebih besar. Gaya ini juga merupakan upaya untuk mengurangi tingkat ketegangan akibat dari konflik tersebut atau menciptakan perdamaian yang kita inginkan. Mengalah dalam hal ini bukan berarti kita kalah, tetapi kita menciptakan suasana untuk memungkinkan penyelesaian yang paripurna terhadap konflik yang timbul antara kedua pihak. Mengalah memiliki esensi kebesaran jiwa dan memberi kesempatan kepada pihak lain untuk juga mau mengakomodasi kepentingan kita sehingga selanjutnya kita bersama bisa menuju ke kuadran pertama.
  4. Menang-menang (Kolaborasi). Kuadran pertama ini disebut dengan gaya manajemen kolaborasi atau bekerja sama. Tujuan kita adalah mengatasi konflik dengan menciptakan penyelesaian melalui konsensus atau kesepakatan bersama yang mengikat semua pihak yang bertikai. Proses ini biasanya yang paling lama memakan waktu karena harus dapat mengakomodasi kedua kepentingan yang biasanya berada di kedua ujung ekstrim satu sama lainnya. Proses ini memerlukan komitmen yang besar dari kedua pihak untuk menyelesaikannya dan dapat menumbuhkan hubungan jangka panjang yang kokoh. Secara sederhana proses ini dapat dijelaskan bahwa masing-masing pihak memahami dengan sepenuhnya keinginan atau tuntutan pihak lainnya dan berusaha dengan penuh komitmen untuk mencari titik temu kedua kepentingan tersebut.


Menang

Kalah

3


4
Menang

1

2


Kalah



Berbicara mengenai negosiasi, ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan, yaitu soft bargaining, hard bargaining dan principled negotiation.


Soft bargaining
Soft bargaining melibatkan bentuk negosiasi yang menitikberatkan pada posisi (menang/kalah), dibandingkan kepentingan dari diadakannya negosiasi itu sendiri. Akan tetapi, untuk menghindari masalah-masalah yang kerap muncul dalam perundingan yang melibatkan posisi, para negosiator akan melakukan pendekatan ”soft” seperti memperlakukan lawan bicaranya sebagai teman, mencari kesepakatan dengan harga apapun, dan menawarkan sebuah hasil perundingan atas dasar penciptaan hubungan yang baik dengan lawan bicara.
Para pelaku negosiasi yang melakukan pendekatan dengan cara seperti berikut akan mempercayai lawan bicaranya, dan akan bersikap terbuka dan jujur mengenai prinsip-prinsip dasar atau alasan mendasar yang mereka miliki mengenai perundingan tersebut kepada lawan bicara mereka. Hal ini akan membuat mereka menjadi rentan bagi para ”hard bargainers” yang akan bertindak secara kompetitif dengan menawarkan hanya beberapa pilihan saja yang benar-benar sesuai dengan alasan mendasar mereka, bahkan melakukan ancaman. Di dalam sebuah perundingan yang melibatkan perunding keras dan lembut, maka akan kita temui bahwa perunding keras hampir selalu tampil dengan kesepatakan yang lebih baik secara mendasar.

Hard bargaining
Sebagaimana yang sudah diutarakan pada bagian soft bargaining, hard bargaining juga menitikberatkan pada posisi dibanding kepentingan dari perundingan yang terjadi. Negosiator dengan pendekatan semacam ini sangatlah bersifat kompetitif, dengan melihat kemenangan sebagai satu-satunya tujuan akhir. Bagi beberapa orang pakar, perunding-perunding keras ini memadang lawan bicara mereka sebagai saingan. Mereka tidak mempercayai lawan bicara mereka dan berusaha untuk bermain secerdik mungkin untuk mencoba mendapatkan keuntungan maksimal dalam negosiasi. Sebagai contohnya, mereka akan tetap berpegang teguh dengan posisi awal mereka, atau tawaran pertama mereka, menolak untuk melakukan perubahan. Mereka mencoba untuk mengecoh lawan bicara mereka khususnya terhadap alasan mereka (soft bargainers) datang ke perundingan tersebut dan menuntut keuntungan sepihak dalam pencapaian kesepakatan. Mereka akan memberlakukan trik dan tekanan dalam usaha mereka untuk menang pada sesuatu yang mereka anggap sebagai sebuah kontes kemauan. Bilamana mereka berhadapan dengan perunding lunak, maka para perunding keras ini cenderung untuk selalu menang. Lain halnya jika berhadapan dengan perunding keras lainnya, di mana ada kemungkinan tidak tercapainya kata sepakat sama sekali (no outcome).

Principled Negosiation
Principled negotiation adalah nama yang diberikan untuk pendekatan yang berbasiskan pada kepentingan yang tertulis di dalam sebuah buku, Getting to Yes, yang pertama kali diluncurkan pada tahun 1981 oleh Roger Fisher dan William Ury. Di dalam buku tersebut tertulis empat dasar di dalam negosiasi: 1) pisahkan antara pelaku dengan masalah; 2) fokus pada kepentingan, bukan posisi; 3) ciptakan pilihan untuk hasil yang mutual; 4) tekankan pada kriteria yang bersifat objektif.

Memisahkan pelaku dari masalah berarti meniadakan hal-hal yang berhubungan dengan masalah personal dari isu inti, dan bila memang ingin dibicarakan, sebaiknya dibicarakan secara independen. Masalah personal/orang umumnya akan melibatkan masalah yang berkaitan dengan persepsi, emosi dan komunikasi. Persepsi adalah sesuatu yang penting karena hal tersebut membantu dalam pendefinisian masalah serta solusinya. Dan bilamana terdapat kenyataan yang sifatnya objektif dan kenyataan tersebut diinterpretasikan secara berbeda oleh orang-orang yang berbeda dalam situasi yang berbeda pula, pada akhirnya kata sepakat akan sulit tercapai.

Masalah personal juga terkait dengan kesulitan-kesulitan emosi — contohnya: ketakutan, kemarahan, ketidakpercayaan dan keresahan. Bilamana emosi-emosi ini dilibatkan di dalam perundingan, maka kata sepakat akan semakin sulit tercapai. Masalah di dalam komunikasi juga dapat dikategorikan sebagai masalah personal. Ada tiga macam masalah komunikasi yang mungkin terdapat di dalam sebuah perundingan. Yang pertama, para pelaku perundingan mungkin tidak berbicara satu dengan yang lainnya. Di mana komentar-komentar mereka secara formal ditujukan kepada lawan bicara mereka, akan tetapi sebenarnya mereka sedang membicarakan pihak lain di luar pelaku perundingan yang hadir pada saat itu.

Masalah yang kedua timbul ketika di antara kelompok tidak saling mendengar. Seharusnya mereka mendengarkan secara menyeluruh terhadap apa yang dibicarakan, malahan mereka merencanakan respons masing-masing. Yang terakhir, para anggota kelompok masing-masing saling berbicara satu dengan lainnya, di mana kesalahpahaman dan salah interpretasi mungkin saja terjadi.

Negosiasi terhadap kepentingan berarti negosiasi mengenai hal-hal yang benar-benar dibutuhkan dan diinginkan oleh orang-orang, bukan apa yang mereka katakan mereka ingin-kan atau butuhkan. Sering kali, kedua hal tersebut tidaklah sama. Orang-orang cenderung untuk mengambil sikap yang ekstrim yang dibuat untuk melakukan tindakan balasan untuk lawan bicara mereka. Jika mereka ditanya mengapa mereka mengambil sikap demikian, maka alasan utama mereka adalah bahwa sesungguhnya keinginan mereka yang sebenar-benarnya adalah kompatibel, bukan mutually exclusive.

Dengan berfokus pada kepentingan, para pelaku perundingan akan dapat dengan mudah memenuhi prinsip dasar yang ketiga yaitu, menciptakan pilihan yang bersifat mutual. Hal ini berarti bahwa para negosiator seharusnya berusaha untuk mendapatkan solusi-solusi baru untuk masalah yang dibicarakan dan membuat kedua pihak untuk menang, bukan berusaha menang, dan lainnya harus kalah.

Prinsip yang keempat adalah untuk menekankan pada kriteria yang objektif. Meskipun tidak tersedia secara gamblang, tapi hal tersebut dapat dicari. Hal ini akan sangat memudahkan proses negosiasi. Jika sebuah serikat dan manajemen berusaha/berjuang atas sebuah kontrak, mereka dapat melihat apa yang disetujui atau dilakukan oleh perusahaan serupa di luar sana sebagai kriteria objektif mereka. Jika orang melakukan negosiasi atas harga sebuah rumah ataupun mobil, mereka akan mencari berapa harga yang ditawarkan untuk benda yang serupa. Hal ini akan memberikan kedua belah pihak tuntunan terhadap ”keadilan”.

Terakhir kali, para pelaku negosiasi harus sudah mengetahui alternatif-alternatif apa saja yang mungkin ada. Jika Anda tidak mengetahui alternatif-alternatif Anda, Anda mungkin akan menerima kesepakatan yang jauh lebih buruk dibandingkan dengan apa yang mungkin Anda miliki, atau menolak sesuatu yang lebih baik dari apa yang sudah dicapai /disepakati.

*Bahan tulisan ini dikutip, dengan penambahan sesuai kebutuhan, dari sumber:

  1. Baharuddin Suryadi, Negosiasi Yang Berhasil (http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/mandiri/2003/0513/man01.html)
  2. __, Negosiasi (http://www.edo.web.id/wp/2007/08/14/negosiasi/)