Mengapa Melakukan Lobby dan Negosiasi?*
Setiap orang sejatinya adalah seorang
negosiator. Tanpa disadari, setiap orang sesungguhnya kerap melakukan lobby dan
negosiasi dalam keseharian hidup sebagai upaya mewujudkan keinginannya. Bahkan
selagi masih kecil, seorang anak kerap menggunakan cara tertentu untuk meminta
dibelikan uang jajan atau dibelikan mainan oleh orangtuanya, entah dengan
merayu, merajuk, sampai menangis. Lobby
dan negosiasi juga terjadi antara istri dan suami, pedagang dan pembeli,
pejabat dan stafnya, antar politisi, antar pengusaha, dan seterusnya. Singkatnya,
lobby dan negosiasi hampir selalu muncul dalam setiap aspek kehidupan manusia,
baik itu individual maupun kelompok.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI), negosiasi diartikan sebagai proses tawar-menawar dengan jalan
berunding untuk memberi atau menerima guna mencapai kesepakatan bersama antara
satu pihak (kelompok atau organisasi) dengan pihak lain. Sedangkan berdasarkan
New Oxford American Dictionary (2nd Edition), lobby diartikan
sebagai upaya untuk memengaruhi seseorang (pejabat politik atau publik) atas
suatu isu. Dengan definisi ini, baik lobby maupun negosiasi pada prinsipnya
memiliki makna yang sama, yaitu membuka ruang pertukaran sumber daya untuk
memenuhi kebutuhan. Perbedaan atas keduanya lebih pada bentuknya saja. Bentuk formal biasa disebut negosiasi,
sedangkan bentuk informal dinyatakan sebagai lobby. Proses lobby tidak terikat
waktu dan tempat, dan bisa dilakukan terus menerus dalam waktu panjang. Namun
proses lobby juga memerlukan kemampuan komunikasi interpersonal yang lebih tinggi
dibandingkan dengan negosiasi. Kemampuan interpersonal ini dipakai untuk
mengolah proses pertukaran kepentingan dalam situasi yang nyaman dan
bersahabat.
Tuntutan untuk melakukan lobby dan
negosiasi memang biasanya muncul ketika seseorang atau suatu kelompok tidak
memiliki sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan atau kepentingannya,
sehingga dibutuhkan tambahan atau bantuan dari pihak lain. Implisit di
dalamnya, seseorang atau kelompok itu juga harus siap memberikan
atau merelakan sesuatu yang bernilai yang dapat kita tukar dengan sesuatu yang
dibutuhkannya itu.
Berdasarkan uraian singkat di atas, bisa dikatakan bahwa
negosiasi memiliki sejumlah karakteristik utama, yaitu:
- Senantiasa melibatkan orang – baik sebagai individual,
perwakilan organisasi atau perusahaan, sendiri atau dalam kelompok;
- Menggunakan cara-cara pertukaran sesuatu –baik berupa
tawar menawar (bargain) maupun tukar menukar (barter);
- Negosiasi biasanya menyangkut hal-hal di masa depan
atau sesuatu yang belum terjadi dan kita inginkan terjadi;
- Ujung dari negosiasi adalah adanya
kesepakatan yang diambil oleh kedua belah pihak, meskipun kesepakatan itu
misalnya kedua belah pihak sepakat untuk tidak sepakat.
- Hampir selalu berbentuk tatap-muka –yang menggunakan
bahasa lisan, gerak tubuh maupun ekspresi wajah;
- Memiliki ancaman terjadinya atau di dalamnya mengandung
konflik yang terjadi mulai dari awal sampai terjadi kesepakatan dalam
akhir negosiasi;
Walau mengandung konflik,
lobby atau negosiasi sejatinya merupakan cara yang paling efektif untuk
mengatasi dan menyelesaikan konflik atau perbedaan kepentingan. Dengan
mengembangkan kemampuan lobby dan negosiasi, setiap pihak bisa mendapatkan apa
yang dibutuhkannya tanpa harus melakukan cara-cara ekstrim, seperti perang,
pemaksaan, atau perebutan. Secara umum, suatu proses lobby atau negosiasi akan
menghasilkan 4 kemungkinan:
- Kuadran Kalah-kalah (Menghindari konflik). Kuadran keempat ini menjelaskan cara
mengatasi konflik dengan menghindari konflik dan mengabaikan masalah yang
timbul. Atau bisa berarti bahwa kedua belah pihak tidak sepakat untuk
menyelesaikan konflik atau menemukan kesepakatan untuk mengatasi konflik
tersebut. Kita tidak memaksakan keinginan kita dan sebaliknya tidak
terlalu menginginkan sesuatu yang dimiliki atau dikuasai pihak lain. Cara
ini sebetulnya hanya bisa kita lakukan untuk potensi konflik yang ringan
dan tidak terlalu penting. Jadi agar tidak menjadi beban dalam pikiran
atau kehidupan kita, sebaiknya memang setiap potensi konflik harus dapat
segera diselesaikan
- Kuadran Menang-kalah (Persaingan). Kuadran kedua ini memastikan bahwa kita
memenangkan konflik dan pihak lain kalah. Biasanya kita menggunakan
kekuasaan atau pengaruh kita untuk memastikan bahwa dalam konflik tersebut
kita yang keluar sebagai pemenangnya. Biasanya pihak yang kalah akan lebih
mempersiapkan diri dalam pertemuan berikutnya, sehingga terjadilah suatu
suasana persaingan atau kompetisi di antara kedua pihak. Gaya penyelesaian
konflik seperti ini sangat tidak mengenakkan bagi pihak yang merasa terpaksa
harus berada dalam posisi kalah, sehingga sebaiknya hanya digunakan dalam
keadaan terpaksa yang membutuhkan penyelesaian yang cepat dan tegas.
- Kuadran Kalah-menang (Mengakomodasi). Agak berbeda dengan kuadran kedua, kuadran
ketiga yaitu kita kalah – mereka menang ini berarti kita berada dalam
posisi mengalah atau mengakomodasi kepentingan pihak lain. Gaya ini kita
gunakan untuk menghindari kesulitan atau masalah yang lebih besar. Gaya
ini juga merupakan upaya untuk mengurangi tingkat ketegangan akibat dari
konflik tersebut atau menciptakan perdamaian yang kita inginkan. Mengalah
dalam hal ini bukan berarti kita kalah, tetapi kita menciptakan suasana
untuk memungkinkan penyelesaian yang paripurna terhadap konflik yang
timbul antara kedua pihak. Mengalah memiliki esensi kebesaran jiwa dan
memberi kesempatan kepada pihak lain untuk juga mau mengakomodasi
kepentingan kita sehingga selanjutnya kita bersama bisa menuju ke kuadran
pertama.
- Menang-menang (Kolaborasi). Kuadran pertama ini disebut dengan gaya manajemen
kolaborasi atau bekerja sama. Tujuan kita adalah mengatasi konflik dengan
menciptakan penyelesaian melalui konsensus atau kesepakatan bersama yang
mengikat semua pihak yang bertikai. Proses ini biasanya yang paling lama
memakan waktu karena harus dapat mengakomodasi kedua kepentingan yang
biasanya berada di kedua ujung ekstrim satu sama lainnya. Proses ini
memerlukan komitmen yang besar dari kedua pihak untuk menyelesaikannya dan
dapat menumbuhkan hubungan jangka panjang yang kokoh. Secara sederhana proses
ini dapat dijelaskan bahwa masing-masing pihak memahami dengan sepenuhnya
keinginan atau tuntutan pihak lainnya dan berusaha dengan penuh komitmen
untuk mencari titik temu kedua kepentingan tersebut.
Menang
|
|||
Kalah
|
3
|
4
|
Menang
|
1
|
2
|
||
Kalah
|
|||
Berbicara
mengenai negosiasi, ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan, yaitu soft bargaining, hard bargaining dan
principled negotiation.
Soft bargaining
Soft
bargaining melibatkan bentuk negosiasi yang menitikberatkan pada posisi
(menang/kalah), dibandingkan kepentingan dari diadakannya negosiasi itu
sendiri. Akan tetapi, untuk menghindari masalah-masalah yang kerap muncul dalam
perundingan yang melibatkan posisi, para negosiator akan melakukan pendekatan
”soft” seperti memperlakukan lawan bicaranya sebagai teman, mencari kesepakatan
dengan harga apapun, dan menawarkan sebuah hasil perundingan atas dasar
penciptaan hubungan yang baik dengan lawan bicara.
Para pelaku negosiasi yang
melakukan pendekatan dengan cara seperti berikut akan mempercayai lawan
bicaranya, dan akan bersikap terbuka dan jujur mengenai prinsip-prinsip dasar
atau alasan mendasar yang mereka miliki mengenai perundingan tersebut kepada
lawan bicara mereka. Hal ini akan membuat mereka menjadi rentan bagi para ”hard
bargainers” yang akan bertindak secara kompetitif dengan menawarkan hanya
beberapa pilihan saja yang benar-benar sesuai dengan alasan mendasar mereka,
bahkan melakukan ancaman. Di dalam sebuah perundingan yang melibatkan perunding
keras dan lembut, maka akan kita temui bahwa perunding keras hampir selalu
tampil dengan kesepatakan yang lebih baik secara mendasar.
Hard bargaining
Sebagaimana
yang sudah diutarakan pada bagian soft bargaining, hard bargaining juga
menitikberatkan pada posisi dibanding kepentingan dari perundingan yang
terjadi. Negosiator dengan pendekatan semacam ini sangatlah bersifat
kompetitif, dengan melihat kemenangan sebagai satu-satunya tujuan akhir. Bagi
beberapa orang pakar, perunding-perunding keras ini memadang lawan bicara
mereka sebagai saingan. Mereka tidak mempercayai lawan bicara mereka dan
berusaha untuk bermain secerdik mungkin untuk mencoba mendapatkan keuntungan
maksimal dalam negosiasi. Sebagai contohnya, mereka akan tetap berpegang teguh
dengan posisi awal mereka, atau tawaran pertama mereka, menolak untuk melakukan
perubahan. Mereka mencoba untuk mengecoh lawan bicara mereka khususnya terhadap
alasan mereka (soft bargainers) datang ke perundingan tersebut dan menuntut
keuntungan sepihak dalam pencapaian kesepakatan. Mereka akan memberlakukan trik
dan tekanan dalam usaha mereka untuk menang pada sesuatu yang mereka anggap
sebagai sebuah kontes kemauan. Bilamana mereka berhadapan dengan perunding
lunak, maka para perunding keras ini cenderung untuk selalu menang. Lain halnya
jika berhadapan dengan perunding keras lainnya, di mana ada kemungkinan tidak
tercapainya kata sepakat sama sekali (no outcome).
Principled Negosiation
Principled
negotiation adalah nama yang diberikan untuk pendekatan yang berbasiskan pada
kepentingan yang tertulis di dalam sebuah buku, Getting to Yes, yang pertama
kali diluncurkan pada tahun 1981 oleh Roger Fisher dan William Ury. Di dalam
buku tersebut tertulis empat dasar di dalam negosiasi: 1) pisahkan antara
pelaku dengan masalah; 2) fokus pada kepentingan, bukan posisi; 3) ciptakan
pilihan untuk hasil yang mutual; 4) tekankan pada kriteria yang bersifat
objektif.
Memisahkan
pelaku dari masalah berarti meniadakan hal-hal yang berhubungan dengan masalah
personal dari isu inti, dan bila memang ingin dibicarakan, sebaiknya
dibicarakan secara independen. Masalah personal/orang umumnya akan melibatkan
masalah yang berkaitan dengan persepsi, emosi dan komunikasi. Persepsi adalah
sesuatu yang penting karena hal tersebut membantu dalam pendefinisian masalah
serta solusinya. Dan bilamana terdapat kenyataan yang sifatnya objektif dan
kenyataan tersebut diinterpretasikan secara berbeda oleh orang-orang yang
berbeda dalam situasi yang berbeda pula, pada akhirnya kata sepakat akan sulit
tercapai.
Masalah
personal juga terkait dengan kesulitan-kesulitan emosi — contohnya: ketakutan,
kemarahan, ketidakpercayaan dan keresahan. Bilamana emosi-emosi ini dilibatkan
di dalam perundingan, maka kata sepakat akan semakin sulit tercapai. Masalah di
dalam komunikasi juga dapat dikategorikan sebagai masalah personal. Ada tiga
macam masalah komunikasi yang mungkin terdapat di dalam sebuah perundingan.
Yang pertama, para pelaku perundingan
mungkin tidak berbicara satu dengan yang lainnya. Di mana komentar-komentar
mereka secara formal ditujukan kepada lawan bicara mereka, akan tetapi
sebenarnya mereka sedang membicarakan pihak lain di luar pelaku perundingan
yang hadir pada saat itu.
Masalah yang kedua timbul
ketika di antara kelompok tidak saling mendengar. Seharusnya mereka
mendengarkan secara menyeluruh terhadap apa yang dibicarakan, malahan mereka
merencanakan respons masing-masing. Yang terakhir,
para anggota kelompok masing-masing saling berbicara satu dengan lainnya, di
mana kesalahpahaman dan salah interpretasi mungkin saja terjadi.
Negosiasi terhadap kepentingan berarti negosiasi mengenai
hal-hal yang benar-benar dibutuhkan dan diinginkan oleh orang-orang, bukan apa
yang mereka katakan mereka ingin-kan atau butuhkan. Sering kali, kedua hal
tersebut tidaklah sama. Orang-orang cenderung untuk mengambil sikap yang
ekstrim yang dibuat untuk melakukan tindakan balasan untuk lawan bicara mereka.
Jika mereka ditanya mengapa mereka mengambil sikap demikian, maka alasan utama
mereka adalah bahwa sesungguhnya keinginan mereka yang sebenar-benarnya adalah
kompatibel, bukan mutually exclusive.
Dengan berfokus pada kepentingan, para pelaku perundingan
akan dapat dengan mudah memenuhi prinsip dasar yang ketiga yaitu, menciptakan
pilihan yang bersifat mutual. Hal ini berarti bahwa para negosiator seharusnya
berusaha untuk mendapatkan solusi-solusi baru untuk masalah yang dibicarakan
dan membuat kedua pihak untuk menang, bukan berusaha menang, dan lainnya harus
kalah.
Prinsip yang keempat adalah untuk menekankan pada
kriteria yang objektif. Meskipun tidak tersedia secara gamblang, tapi hal
tersebut dapat dicari. Hal ini akan sangat memudahkan proses negosiasi. Jika
sebuah serikat dan manajemen berusaha/berjuang atas sebuah kontrak, mereka
dapat melihat apa yang disetujui atau dilakukan oleh perusahaan serupa di luar
sana sebagai kriteria objektif mereka. Jika orang melakukan negosiasi atas
harga sebuah rumah ataupun mobil, mereka akan mencari berapa harga yang
ditawarkan untuk benda yang serupa. Hal ini akan memberikan kedua belah
pihak tuntunan terhadap ”keadilan”.
Terakhir kali, para pelaku negosiasi
harus sudah mengetahui alternatif-alternatif apa saja yang mungkin ada. Jika
Anda tidak mengetahui alternatif-alternatif Anda, Anda mungkin akan menerima
kesepakatan yang jauh lebih buruk dibandingkan dengan apa yang mungkin Anda
miliki, atau menolak sesuatu yang lebih baik dari apa yang sudah dicapai
/disepakati.
*Bahan tulisan ini dikutip, dengan penambahan sesuai
kebutuhan, dari sumber:
- Baharuddin Suryadi, Negosiasi Yang Berhasil
(http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/mandiri/2003/0513/man01.html)
- __, Negosiasi
(http://www.edo.web.id/wp/2007/08/14/negosiasi/)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar