“Wabah Virus” Ketidakjujuran
Mengikuti jejak hasil poling timbul dalam benak saya siapa yang sebenarnya jujur atau tidak, hal ini menimbulkan banyak keraguan dan keresahan. Sedikit saya cuplik tulisan dibawah dari: ”A Book of Wisdom”, Tasirun Sulaiman.
“Dan manusia itu ssungguhnya mencintai yang serba
cepat” (QS Al-Qayimah - 75 : 20 )
”Bermain Api” dengan ketidakjujuran
![]() |
| Air Embun.pic |
Masih perlukah sikap jujur, di negeri dimana moral
sudah tidak lagi bersendi? Moral sudah berserak- serak?. Korupsi dimana-mana:
dari birokrasi hingga lembaga perwakilan, dari pusat sampai ke desa, dari
pejabat tinggi sampai RT. Apakah tidak merugi kita bersikap jujur?.
Kejujuran adalah bawaan lahir manusia. Manusia
betapapun rusak akhlaknya, tetap mencintai kejujuran. Seorang penjahat sungguh
tidak pernah menginginkan anaknya menjadi penjahat. Seorang penipu tidak pernah terlintas dalam pikirannya
agar anaknya menjadi penipu juga. Bahkan seorang koruptor juga tidak ingin
anaknya melanjutkan karir sebagai koruptor.
Mereka yang tidak jujur sebenarnya memiliki rasa
bersalah. Mereka lantas menyalahkan keadaan: blaming the others. Seperti
menyalahkan punya anak banyak. Punya istri banyak. Teman-temannya juga
koruptor. Keadaan memaksa kalau tidak korup tidak akan langgeng menduduki
jabatan karena jabatan itu menjadi transaksi korupsi.
Manusia juga sesungguhnya menyukai cara-cara yang
instan dan cepat untuk mencapai tujuannya. Akhirnya, demi mencapai tujuan, cara
apa pun bisa ditempuh. Apakah bertentangan dengan moral dan ajaran agama, itu
tidak penting lagi. Yang penting adalah bagaimana saya mendapat keuntungan
sebesar-besarnya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Masalah orang lain menderita
kerugian itu urusan lain.
Sekilas, ketidakjujuran terlihat menguntungkan, tapi
sesungguhnya ketidakjujuran justru awal dari kejatuhan. Tidak saja kejatuhan
moral dan integritas, tetapi kajatuhan ruhani. Bahkan, bisa dikatakan
kebangkrutan ruhani. Kalau terus menerus tidak jujur, lama-lama dia akan
hancur.
Jalan kejujuran itu mirip dengan istilah jalan yang
benar: jalan benar bukan berarti lurus seperti jalan tol. Tapi bisa jadi jalan
yang benar itu berkelok-kelok. Sementara itu ketidakjujuran mirip dengan jalan
pintas yang mengahantarkan seseorang tapi membahayakan. Ketidakjujuran terlihat
dari luarnya menguntungkan, tapi sesungguhnya merugikan karena mengorbankan
sesuatu yang paling berharga sebagai mansuia: concience atau hati nurani. Orang
yang tidak jujur selalu bertentangan dan bertarung dengan dirinya. Oleh
karenanya, dia tidak akan pernah merasakan kepuasan dan kebahagiaan hidup.
Sekali seseorang berlaku tidak jujur, maka dia juga
akan melakukan hal yang sama untuk kasus- kasus lainnya. Jadi, ketidakjujuran
ibarat bara api yang akan merembet dan menghabiskan gulungan kayu, bahkan
hutan. Susah dihentikan. Hati –hatilah dengan perbuatan tidak jujur, meski
hanya sekali.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar