Pilih Presiden saya
Sekembalinya
dari Jum’at an saya dapat pesan SMS yang isinya “ Saya Jokowi, insya Allah
dengan dukungan anda akan memimpin Indonesia untuk mensejahterakan rakyat
Indonesia, Mohon doa restu & dukungannya dengan mencoblos no 2”, mungkin
anda juga mendapatkan pesan SMS yang sama. Pesan tersebut langsung dari JOKOWI
ya tentunya dari Call Center Tim sukses nya. Ketika saya browsing langsung
punya ide untuk mncari karakteristik pemimpin yng idel untuk Indnesia saat ini.
Siapakah
presiden 2014-2019?, Itulah yang terlintas dalam benak saya, kita teropong
berdasarkan hasil browsing yang mencari-cari pilihan no berapa kira nantinya
ketika di bilik suara akan mencoblos, yang berakhir pada suatu kesimpulan
berikut petikannya.
Kriteria
Kepemimpinan Oleh: EMHA Ainun Nadjib (Minggu, 17 Juni 2001)
Dalam terminologi yang sederhana, wacana utama kriteria kepemimpinan setidaknya harus melingkupi tiga dimensi: kebersihan hati, kecerdasan pikiran, serta keberanian mental.
Jika pemimpin hanya memiliki kebersihan hati saja, misalnya, tanpa
didukung kecerdasan intelektual dan keberanian, maka kepemimpinannya bisa
gampang stagnan. Begitu pula sebaliknya. Jika pemimpin hanya memiliki
kecerdasan belaka tanpa didukung kebersihan hati dan keberanian, maka jadinya
seperti di 'menara gading' alias monumen yang bukan hanya tanpa makna, tapi
juga nggangguin kehidupan rakyatnya. Apalagi, jika pemimpin hanya memiliki
keberanian saja tanpa kebersihan hati dan kecerdasan, maka akan menjadikan
keadaan semakin kacau dan buruk. Sebenarnya, kriteria kepemimpinan sama persis
dengan kriteria manusia biasa atau orang kebanyakan, Kalau omong tentang
pemimpin, sebaiknya jangan muluk-muluk. Berpikir sederhana saja. Misalnya.
syarat menjadi suami. Pertama, harus manusia. Kedua, harus laki-laki. Baru yang
ketiga, keempat, dan seterusnya.
Syarat suami harus manusia itu banyak tak diperhatikan orang, padahal
jelas banyak suami berlaku seperti ia bukan manusia. Bertindak hewaniah kepada
istrinya, juga kepada orang lain. Bukankah menjadi manusia itu sendiri saja
sudah sedemikian sukarnya? Kenapa kita punya spontanitas untuk mentertawakan
dan meremehkan bahwa syarat menjadi suami itu harus manusia?
Jadi, syarat menjadi Presiden atau Lurah itu ya sederhana saja: harus
manusia. Sebab ratusan juta rakyat di muka bumi sengsara dalam berbagai era
sejarahnya, gara-gara pemimpin negaranya berlaku tidak sebagaimana manusia,
padahal semua orang sudah menyepakati bahwa ia manusia. Bukankah perilaku
kebinatangan itu sebenarnya peristiwa jamak dan 'rutin' dalam konstelasi
perpolitikan dan kekuasaan? Juga persaingan ekonomi?
Dulu saya bangga hanya ada istilah political animal dan economic animal
, tidak ada cultural animal. Saya bersombong yang punya kecenderungan
kebinatangan hanya pelaku politik dan ekonomi, kebudayaan tidak. Tapi ternyata
itu salah. Cultural animal juga bukan main banyaknya. Termasuk di bidang
kesenian, hiburan, informatika dll. Mungkin sekali termasuk saya sendiri.
Kemudian syarat menjadi suami yang kedua adalah harus laki-laki.
Ternyata banyak suami berlaku tidak laki-laki. Ia jantan ketika di ranjang,
tapi tidak dalam mekanisme politik rumah tangga, tidak di dalam pergaulan.
Betapa banyaknya lelaki yang ternyata betina, yang berlaku tidak fair, curang,
culas, suka mengincar, menyuruh bikin kerusuhan supaya nanti dia yang jadi pahlawan,
merancang membakar gedung parlemen supaya bisa bikin dekrit, dan lain
sebagainya.
Meskipun, dari sudut ideologi pembelaan kaum perempuan, saya tidak
mantap dengan etimologi dan filosofi kebahasaan kita. Kenapa orang yang jujur
kita sebut jantan, yang pengecut kita sebut betina atau perempuan. Bukankah
kejantanan yang dimaksud di situ bisa juga dilakukan oleh wanita? Bisa saja ada
lelaki betina dan perempuan jantan. Jadi yang dimaksud pemimpin harus laki-laki
bukan dalam pengertian fisik, melainkan dalam pengertian kepribadian. Tolonglah
ada gugatan kepada Pusat Bahasa.
Jadi para
netter, mudah2an ini bisa menjadi pencerahan bagi yang belum punya pilihan atau
karena keraguan yang ditimbulkan dari efek kampanya hitam yang marak dan kian
panas seiring waktu yang semakin dekat. So mantapkan pilihan kita yang lima
menit di bilik suara itu sangat menentukan nasib bangsa ini lima tahun ke depan.
Salam Dua Jari
Big macth
Critic.net/world-cup-2014 /
Big macth

Tidak ada komentar:
Posting Komentar