Jati
Diri
Diadaptasi dari Tulisan : Kisdarto
Atmosoeprapto: Temukan Kembali Jati Diri Anda
Untuk memulai usaha banyak para ahli menyarankan untuk terlebih dahulu mengenal diri kita sendiri secara mendalam, untuk menggali minat, gairah dalam melakukan tugas, dan menemukan banyak latar agar bisa bertahan dikala krisis.
Sebenarnya setiap manusia pada saat dilahirkan membawa atau ‘dibekali’ karakteristik
bawaan yang mulia ( human endowment ) sebagai Karunia Tuhan. Namun dalam perjalanan
hidup watak yang terbentuk bisa berbeda dari watak bawaannya, atau bahkan
bertentangan.
Menemukan
jati diri berarti menyadari, menghayati dan memahami untuk apa kita dilahirkan,
apa makna dari kelahiran dan hidup kita selanjutnya bagi kehidupan dan makna
kehidupan itu sendiri bagi diri kita.
Apabila
kita menyadari makna diri kita bagi kehidupan itu sendiri,kita akan tetap
menjaga dan memelihara potensi dan karakteristik bawaan kita serta
mengembangkannya untuk memperbaiki terus menerus kualitas hidup dan kehidupan.
Kesadaran ini akan menjadi dorongan yang kuat bagi diri kita untuk mengejar dan
mewujudkan cita – cita dan memaknai kehidupan kita sesuai dengan kebutuhan
dasar (kebutuhan yang paling tinggi nilainya) yaitu self transendence .
Kebutuhan tertinggi itu ‘merupakan
keseimbangan antara ‘selfish’ dan ‘selfless’ . Selfish mengandung arti ‘aku
yang teguh’ sedangkan selfless mengandung arti pengorbanan untuk sesama.
Mewujudkan
cita – cita, keberhasilannya lebih ditentukan oleh sikap mentalnya ( attitude )
ketimbang kemampuan atau kecakapannya (aptittude ). Sikap mental dibentuk oleh
dorongan dari dalam atau kemauan ( willingness ) seseorang, sedangkan kemampuan
( ability ) adalah rangsangan dari luar atau lingkungan. Kinerja seseorang
ditentukan oleh dua faktor utama tadi, bisa bersifat positif (konstruktif atau
membangun) bisa juga bersifat negatif (destruktif atau merusak), hal ini sangat
tergantung kepada sikap mental pelakunya. Bila sikap mental – nya positif,
kinerja yang dihasilkan akan bersifat positif. Sebaliknya, bila sikap mentalnya
negatif, kinerja yang dihasilkan juga akan negatif.
Kenyataannya ketika orang menyadari makna dirinya dalam kehidupan dan makna kehidupan bagi dirinya, segala perbuatan dalam hidupnya merupakan buah dari sikap mental positif-nya yang bersumber dari kesadaran menemukan "jati diri" - nya, kesadaran bahwa ia dilahirkan dengan bekal potensi dan karakteristik bawaan dan keberadaannya di dunia diharapkan bisa berperan - betapapun kecilnya - dalam memperbaiki kualitas kehidupan sebagai diinginkan oleh Sang Pencipta. Yang ditinggalkan manusia di dunia pada hakekatnya hanyalah amal perbuatannya, dia akan dikenang saat dalam hidupnya bermanfaat atau memiliki nilai bagi sesama. Oleh karena itu yang paling penting adalah apa yang diperbuat seseorang dalam hidupnya. Seperti kata pepatah: "Lebih baik menjadi orang yang tidak dikenal - namanya - tetapi berbuat sesuatu - yang bermanfaat, dari orang yang dikenal - namanya - akan tetapi tidak melakukan apapun".
Perbuatan
berawal dari pikiran, maka apa yang dipikirkan seseorang sebelum mewujudkannya
dalam perbuatan mempunyai peranan yang menentukan nilai dari hasil
perbuatannya. Apabila pikiran yang berkembang bisa ‘mendengarkan’ bisikan
nurani, berarti mampu menangkap maksud dan tujuan kehidupan ini diciptakan ,
maka pikiran itu akan memperoleh daya (power) luar biasa sehingga perbuatan
yang diwujudkannyapun mempunyai nilai yang besar.
Kitapun
sebenarnya perlu menyadari atau menemukan kembali jati diri kita sendiri
sebagai manusia, makhluk yang diciptakan lebih unggul dari segala makhluk
ciptaan Tuhan, dengan segala karakteristik dan potensi bawaan sejak lahir yang
bisa dikembangkan untuk mencapai kemanfaatan yang lebih besar bagi diri kita
sendiri dan bagi kehidupan secara keseluruhan agar selalu mengarah pada maksud,
tujuan dan kehendak Sang Pencipta.
Bila kita memiliki pendirian yang teguh dan keyakinan pada kebenaran yang selalu kita kejar, rintangan apa pun harus berani kita hadapi. Bila diri kita berdaya, tidak seorang pun bisa memberdayakan kita, bahkan kita bisa memberdayakan orang lain. Untuk menemukan jati diri kita, kenalilah terlebih dahulu diri kita; siapa sebenarnya kita. Hal tersebut bisa dilakukan cukup dengan perenungan pada perjalanan hidup yang sudah dilalui, kapan saja setiap saat, mawas diri pada apa yang selama ini telah kita peroleh dan telah kita amalkan dalam hidup kita.
Pandanglah
Diri Sebelum mengenali diri, pandanglah
terlebih dahulu diri kita. Cobalah berdiri di depan cermin, bayangan dalam
cermin itulah wujud diri. Dialah cermin kita, yang paling setia dan jujur. Kita
tidak akan bisa berbohong, karena setiap kali kita akan berbohong’ “kawan” anda
yang ada dalam cermin akan mengingatkannya. Kalau kita tidak berdiri dalam
cermin “kawan” kita tersebut sebenarnya “bersembunyi “ dalam diri kita, bahkan
pikiran kita. Itulah yang disebut “hati nurani”.
Jangan
sekali – kali mencemoohkan rupa atau wujud bayangan kita dalam cermin. Karena
jika kita mencemoohkannya berarti kita kecewa dengan diri sendiri dan akhirnya
orang lainpun akan mencemoohkan dan meremehkan kita.
Mengenali,
menemukan dan menyadari jati diri kita akan lebih memberdayakan diri kita
sehingga kita menjadi semakin kuat untuk menghadapi dan mengatasi segala rintangan
dan hambatan dalam hidup guna mewujudkan cita – cita kita, visi kita menuju
kesuksesan dalam hidup, membuat kualitas hidup kita menjadi lebih baik dan
berpeluang memperbaiki kualitas kehidupan bagi sesama. Bukankah itu yang
menjadi tujuan dan kehendak Sang Pencipta, untuk itu pulalah kita
dilahirkan dan kita dilahirkan sama,
dibekali karakteristik dan potensi yang sama pula.
Nah, Mulailah sekarang bercermin diri sehingga didapat jati diri sesungguhnya sehingga bisa membimbing Anda ke arah mana kesuksesan yang paling bersinar.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar